VMware Ungkap Tumbuhnya Inovasi Melalui Aplikasi Modern

0
62

Jakarta, Itech- Menurut riset global terbaru yang diselenggarakan oleh VMware, keselarasan antara tim bisnis, IT dan pengembang aplikasi di perusahaan menjadi kunci dalam mendukung hadirnya inovasi sekaligus meningkatkan pertumbuhan bisnis sesuai dengan target yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

Pandemi COVID-19 membawa dampak luar biasa pada perekonomian global. VMware Research mengungkapkan bahwa perusahaan yang sejak jauh hari sudah menerapkan transformasi digital (DX) berada dalam kondisi yang lebih baik dalam menghadapi dampak melemahnya pertumbuhan bisnis akibat pandemi berkat meningkatnya kemampuan perusahaan dalam menghantarkan aplikasi-aplikasi modern.

Menurut Cin Cin Go, Country Manager, VMware Indonesia, “Riset ini mengungkap temuan bahwa di saat perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik (APAC) dituntut untuk menyelaraskan bisnis dengan pihak global, hanya sedikit perusahaan di APAC yang memprioritaskan pengalaman pengguna. Alih-alih, mereka lebih fokus pada prioritas-prioritas yang berhubungan dengan karyawan, seperti bagaimana meningkatkan kolaborasi dan menggaet SDM baru atau mempertahankan SDM yang ada, di mana hal ini akan memberikan fondasi yang kokoh untuk menuntaskan perjalanan digital perusahaan.”

Beberapa hal yang menjadi catatan penting terkait perusahaan-perusahaan yang telah sukses adalah bahwa teknologi merupakan salah satu komponen saja dalam meraih kesuksesan, sementara faktor kuncinya terletak pada SDM, pemimpin-pemimpin perusahaan yang memahami mengenai software dan penyelarasan organisatoris perusahaan:

  • SDM Berkompetensi – 94 persen responden menyampaikan bahwa perlunya melibatkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki bekal skill teknis yang mumpuni dalam penyelenggaraan transformasi digital di perusahaan, apabila mereka ingin inisiatif ini sukses.
  • Pentingnya Peran Pemimpin – 89 persen responden menuturkan bahwa organisasi dengan pemimpin yang berorientasi pada software ternyata lebih sukses. 
  • Keselarasan Tim – 88 persen responden yakin bahwa dengan adanya keselarasan yang terbangun antara masing-masing stakeholder yang terlibat dalam proses pengembangan aplikasi akan menjadi garda terdepan dalam meraih kesuksesan transformasi digital di perusahaan.

Namun demikian, hampir semua perusahaan yang menjadi responden riset mengalami hambatan-hambatan dalam perjalanan transformasi digital, terlepas dari skala bisnis mereka:

  • 97 persen responden di APAC menyatakan telah merasakan kesuksesan dalam upaya transformasi digital mereka, telepas itu dalam skala besar maupun kecil. Namun demikian, hanya 90 persen dari mereka yang merasakan adanya hal-hal yang menghambat upaya mereka. Berikut tiga hal yang menghambat dalam terlaksananya transformasi digital di perusahaan-perusahaan di APAC:
    • Terlalu banyaknya persyaratan yang harus dipenuhi terkait dengan hal keamanan dan regulasi (32 persen atau 5 persen lebih tinggi dari rata-rata global)
    • Aplikasi/software tidak dapat terintegrasi dengan sempurna dengan sistem yang ada atau sistem legacy (27 persen) 
    • Terlalu banyak platform yang justru membuat proses transformasi itu sendiri menjadi terlalu kompleks (27 persen) 

Terkait dengan proses penerapan dan pengembangan software, perusahaan-perusahaan di APAC yang mengalami peningkatan pertumbuhan 5 persen ke atas ternyata lebih dari 14 persen lebih proses software/aplikasi net-new mereka rata-rata sudah berada di tahap produksi, jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan dengan pertumbuhan 5 persen ke bawah.

Pengambil kebijakan IT dan pengembang aplikasi di kedua jenis perusahaan dengan pertumbuhan lebih tinggi maupun rendah tersebut menyampaikan adanya kesamaan dalam waktu yang dibutuhkan oleh tim mereka terkait dalam maintenance (39 persen). Namun, perusahaan dengan pertumbuhan yang lebih tinggi lebih banyak menggelontorkan belanja pada inovasi (49 persen) dari pada mereka yang berada di jajaran perusahaan dengan pertumbuhan lebih rendah (44 persen). Sementara, tingkat agility yang mereka rasakan dalam proses pengembangan aplikasi sebesar 58 persen berbanding 46 persen. (red)