Microsoft dan LinkedIn Luncurkan Work Trend Index 2024 Tentang Penggunaan AI

31

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Jakarta, itechmagz.id – Microsoft dan LinkedIn hari ini merilis data Indonesia dari laporan global Work Trend Index 2024 mengenai penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di dunia kerja. Temuan mengungkapkan persentase knowledge workers[1] di Indonesia yang menggunakan generative AI, dan persentase pemimpin di Indonesia yang percaya perusahaannya perlu mengadopsi AI untuk tetap kompetitif, lebih tinggi dibandingkan data Asia Pasifik dan global. Temuan ini mencerminkan kuatnya minat Indonesia untuk memanfaatkan teknologi AI guna menghasilkan dampak bisnis, serta menandakan potensi munculnya budaya baru dalam sektor ketenagakerjaan Indonesia yang didorong oleh AI.

“Saat ini, kita sedang berada di era transformasi AI yang memungkinkan kita untuk berkreasi dan berinovasi jauh lebih cepat. Kecepatan Indonesia dalam beradaptasi dan bertumbuh di era ini pun menunjukkan bahwa kita berada di jalur yang tepat untuk merealisasikan peluang ekonomi digital Indonesia dan menciptakan dampak positif yang lebih besar bagi masyarakat luas. Kuncinya sekarang ada pada bagaimana kita mampu menyalurkan antusiasme tersebut menjadi transformasi AI bisnis yang nyata, dengan melakukan tiga hal. Pertama, identifikasi masalah bisnis dan integrasikan AI ke dalam solusinya. Kedua, ambil pendekatan top-down dan bottom-up. Ketiga, prioritaskan pelatihan keterampilan AI bagi setiap individu,” ujar Dharma Simorangkir, Presiden Direktur Microsoft Indonesia.

Laporan tersebut, yang mengambil judul “AI at work is here. Now comes the hard part.”, dihasilkan melalui survei terhadap 31.000 orang di 31 negara termasuk Indonesia, tren ketenagakerjaan dan perekrutan di LinkedIn, triliunan sinyal produktivitas Microsoft 365, serta riset bersama pelanggan yang berasal dari perusahaan Fortune 500.

Bersama dengan laporan tersebut, Microsoft mengumumkan kemampuan baru dalam Copilot for Microsoft 365, sementara LinkedIn merilis lebih dari 50 kursus pembelajaran gratis untuk pelanggan LinkedIn Premium, guna memberdayakan para profesional dari semua jenjang untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam bidang AI.

“Seiring dengan perubahan transformatif di tempat kerja karena AI, perusahaan perlu pedoman baru dalam merekrut tenaga kerja,” ujar Rohit Kalsy, Indonesia Country Lead, LinkedIn. “Dengan cepatnya ekosistem tenaga kerja berkembang, para pemimpin yang memprioritaskan fleksibilitas dan berinvestasi dalam mengembangkan keterampilan tenaga kerja yang siap dengan AI akan mendapatkan keunggulan kompetitif. Sebanyak 69% pemimpin perusahaan di Indonesia menyatakan bahwa mereka tidak akan merekrut seseorang tanpa keterampilan AI. Hal ini menekankan urgensi dan pentingnya para profesional untuk fokus dalam meningkatkan kemampuan AI melalui pelatihan. Sementara itu, data kami menunjukkan peningkatan 65% dalam jam belajar untuk 100 kursus AI/generative AI teratas dari tahun 2022 hingga 2023 di LinkedIn Learning. Rekor jumlah peserta yang mengikuti kursus AI teratas di LinkedIn sejak Januari 2023 di Asia Tenggara, Australia, dan India.”

Berdasarkan laporan Work Trend Index 2024, terdapat tiga poin utama yang perlu diketahui oleh setiap pemimpin dan profesional di Indonesia mengenai dampak AI terhadap pekerjaan dan pasar tenaga kerja di tahun mendatang:

Adsense
  1. Karyawan tertarik untuk mengadopsi AI di tempat kerja — dan mereka tidak akan menunggu perusahaan untuk menyediakannya:
    • Sebanyak 92% knowledge workers di Indonesia sudah menggunakan generative AI di tempat kerja. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan angka global (75%) dan Asia Pasifik (83%).
    • Sekitar 92% pemimpin di Indonesia percaya akan pentingnya adopsi AI untuk menjaga keunggulan kompetitif perusahaan; lebih tinggi dibandingkan angka global (79%) dan Asia Pasifik (84%). Meski demikian, 48% merasa khawatir kepemimpinan di organisasinya masih belum memiliki visi dan rencana untuk menerapkan AI dalam perusahaan; lebih rendah dibandingkan angka global (60%) dan Asia Pasifik (61%).
    • Oleh karena itu, 76% karyawan di Indonesia berinitiatif untuk membawa perangkat atau solusi AI mereka sendiri ke tempat kerja (Bring Your Own AI/BYOAI). Namun, tren ini berpotensi mengurangi manfaat yang bisa diraih ketika AI digunakan secara strategis dalam skala besar, serta membawa risiko tertentu terhadap data perusahaan. Alhasil, tugas pemimpin perusahaan dalam waktu dekat adalah mempertimbangkan bagaimana menerapkan AI dalam skala besar di perusahaan, sembari menghasilkan return on investment (ROI) yang maksimal.
  2. Bagi karyawan, AI meningkatkan standar dan membuka peluang karier:
    • Sebanyak 69% pemimpin di Indonesia menyatakan bahwa mereka tidak akan merekrut seseorang tanpa keterampilan AI. Sebanyak 76% bahkan cenderung merekrut kandidat dengan pengalaman kerja yang lebih sedikit namun handal menggunakan AI, dibandingkan kandidat berpengalaman tanpa kemampuan AI.
    • Belajar dari data global, tidak sedikit tenaga profesional yang berinisiatif meningkatkan keterampilan mereka sendiri. Terdapat peningkatan sebesar 142x dalam keanggotaan LinkedIn yang menambahkan keterampilan AI seperti Copilot dan ChatGPT ke profil mereka, dan peningkatan 160% dalam tenaga profesional non-teknis yang menggunakan kursus LinkedIn Learning untuk membangun kecakapan AI mereka.
    • Penyebutan AI dalam unggahan peluang kerja di LinkedIn mendorong peningkatan lamaran kerja sebanyak 17%. Belajar dari sini, dampak AI sudah tidak dapat dipungkiri: perusahaan yang memberdayakan karyawan dengan alat dan pelatihan AI akan menarik talenta terbaik, sementara profesional yang meningkatkan keterampilan mereka akan lebih unggul dibanding mereka yang masih belum melakukannya.
  3. Munculnya fenomena AI Power Users — dan apa yang mereka ungkapkan tentang masa depan dunia kerja:
    • Penelitian ini memetakan empat tipe pengguna AI — dari pengguna skeptis yang jarang menggunakan AI, pengguna novice dan explorer yang sedikit lebih familiar dengan dan sering menggunakan AI, hingga power user yang menggunakannya secara ekstensif.
    • AI sudah menjadi bagian integral dari rutinitas kerja power users: 93% power users di Indonesia menggunakannya untuk memulai hari kerja mereka dan 94% menggunakannya untuk mempersiapkan esok hari (lebih tinggi dibandingkan global yang masing-masing di angka 85% dan Asia Pasifik di 88%).
    • Sebanyak 73% power users di Indonesia juga cenderung lebih tertarik untuk bereksperimen dengan AI, lebih tinggi dibandingkan global (68%) dan Asia Pasifik (51%).

Di Indonesia, berbagai organisasi lintas skala dan industri telah mengintegrasikan tool generative AI seperti Copilot for Microsoft 365 ke dalam alur kerja mereka sehari-hari untuk meningkatkan produktivitas. Termasuk di antaranya yaitu Indosat Ooredoo Hutchinson (Indosat atau IOH). Copilot for Microsoft 365 menjadi bagian dari peningkatan produktivitas bagi karyawan Indosat dalam mengelola pekerjaannya. Pengintegrasian kapabilitas Copilot for Microsoft 365 pun telah dilakukan di berbagai fungsi di Indosat, mulai dari digital, Human Resource, Business-to-Business, hingga Network. Hal ini menjadi bukti nyata komitmen transformasi Indosat dari perusahaan telekomunikasi menjadi AI Native TechCo dan merevolusi lanskap digital di Indonesia.

Memperkaya Pengalaman Kerja Dengan Fitur Baru Copilot for Microsoft 365

Memahami manfaat generative AI dalam dunia kerja, Microsoft juga mengumumkan inovasi Copilot for Microsoft 365 yang dapat membantu orang berkreasi lebih banyak dengan AI:

  • Fitur auto-complete baru akan hadir di kotak prompt. Copilot sekarang akan membantu orang yang baru menuliskan prompt-nya dengan menawarkan untuk melengkapi prompt tersebut, serta menyarankan prompt yang lebih rinci berdasarkan apa yang sedang diketik untuk memberikan hasil yang lebih kuat.
  • Fitur rewrite baru dalam Copilot akan membantu para pengguna yang tahu keinginan mereka, tetapi mungkin tidak memiliki kata yang tepat untuk menjelaskannya, agar dapat mengubah prompt dasar menjadi lebih kaya dengan sekali klik.
  • Catch Up adalah antarmuka chat baru yang menampilkan personal insights berdasarkan aktivitas terbaru dan memberikan rekomendasi yang responsif.
  • Kemampuan baru di Copilot Lab akan memungkinkan orang untuk membuat, menerbitkan, dan mengelola prompt yang disesuaikan dengan mereka, serta untuk tim, peran, dan fungsi spesifik mereka.

Materi untuk Peningkatan Keterampilan yang Relevan dengan Dunia Kerja

LinkedIn menyediakan alat AI untuk membantu pengguna tetap unggul dalam karier masing-masing:

  • Untuk Peningkatan Keterampilan. LinkedIn Learning menawarkan lebih dari 22.000 kursus, termasuk lebih dari 600 kursus AI, untuk membangun kecakapan dalam generative AI, memberdayakan tim dalam suatu perusahaan untuk membuat investasi bisnis yang didorong oleh generative AI, atau sekadar untuk menjaga agar keterampilan karyawan tetap tajam. Kursus baru ini gratis dan tersedia untuk semua orang hingga 8 Juli 2024. Selain itu, AI-Powered Coaching baru di LinkedIn Learning membantu pelajar menemukan konten yang mereka butuhkan untuk meningkatkan keterampilan mereka lebih cepat, dengan tingkat personalisasi yang lebih tinggi dan pembelajaran percakapan yang dipandu.
  • Untuk Kemajuan Karier. Bagi pelanggan LinkedIn Premium, insights yang dihasilkan oleh AI dari Feed LinkedIn baik itu unggahan, artikel, atau video (dari artikel hingga komentar) dapat membantu pengguna dalam pengambilan keputusan yang relevan atau sekadar memberikan ide.
  • Untuk Mencari Pekerjaan. Bagi para pengguna yang sedang mencari kerja, fitur LinkedIn juga mempermudah dan mempercepat penemuan pekerjaan ideal. Pengguna sekarang dapat menilai kesesuaiannya untuk sebuah peran dalam hitungan detik berdasarkan pengalaman dan keterampilan mereka, mendapatkan saran agar lebih unggul di dunia kerja dari segi keterampilan dan network, dan masih banyak lainnya. Sejauh ini, lebih dari 90% pengguna yang memiliki akses mengatakan bahwa ini membantu dalam pencarian pekerjaan mereka.

Untuk mempelajari lebih lanjut, kunjungi Blog Resmi Microsoft, Laporan Work Trend Index 2024, dan kunjungi LinkedIn untuk mendengar lebih banyak dari Chief Economist LinkedIn, Karin Kimbrough.

Advertisements

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More