Survei Batimetri Dukung Ekstensi Landas Kontinen Indonesia

Jakarta, Itech- Indonesia sebagai negara kepulauan sekaligus sebagai negara pantai mempunyai hak untuk melakukan submisi batas landas kontinen di luar 200 mil laut. Hal itu disebutkan pada pasal 76 di dalam United Nation Convention on the Law Of the Sea (UNCLOS) tahun 1982. Peta batimetri sangat penting dalam upaya mendukung submisi ekstensi batas landas kontinen Indonesia.

Peta kedalaman laut (batimetri) merupakan salah satu hasil utama dari survei hidrografi yaitu suatu survei yang mempelajari dan menggambarkan bentuk fisik bagian permukaan bumi yang dilingkupi air, termasuk daratan yang berbatasan dengan perairan. Permukaan bumi yang dilingkupi air mencakup permukaan dan kolom air, juga dasar perairan, serta perubahan parameter tersebut terhadap waktu.

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengatakan bahwa terdapat tiga wilayah di Indonesia yang landas kontinennya berpotensi untuk ditambah di luar 200 mil laut, yaitu sebelah barat Pulau Sumatera, sebelah utara Papua dan selatan Sumba.

“Upaya penambahan landas kontinen tersebut sangat memerlukan data batimetri sebagai salah satu syarat penting dalam menentukan batas landas kontinen yaitu adanya penentuan kaki lereng (foot of slope) kontinen yang penentuannya didasarkan pada UNCLOS 1982,” kata Hammam saat membuka Webinar bertema ‘Peran Teknologi Pemetaan Laut Dalam untuk Mendukung Program Batimetri Nasional, Utilitas Bawah Laut dan Ekstensi Landas Kontinen Indonesia’ yang digelar oleh Kedeputian Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam melalui Balai Teknologi Survei Kelautan (Teksurla) pada Selasa (31/8/2021).

Survei batimetri untuk Landas Kontinen Indonesia (LKI) telah dilakukan Badan Informasi Geospasial (BIG) bersama BPPT menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya BPPT di barat Aceh pada 2010, di utara Papua pada 2019 maupun di Barat Bengkulu pada 2020. Hammam mengatakan, saat ini, upaya menambah wilayah landas kontinen Indonesia telah berhasil dilakukan di barat Pulau Sumatera pada 2010, Indonesia berhasil menambah luasan landas kontinen di luar 200 mil di barat Aceh seluas 4.209 km2. Pada 2019, Indonesia juga telah melakukan submisi landas kontinen di wilayah sebelah utara Papua.

Sebagai bagian dari institusi riset kelautan di Indonesia, saat ini BPPT melalui Balai Teksurla mempunyai dan mengelola empat buah kapal riset, yaitu Kapal Riset Baruna Jaya I, II, III dan IV. Keempat kapal riset ini mempunyai kemampuan untuk melakukan pemetaan batimetri yang lengkap mulai dari perairan dangkal sampai laut dalam, menggunakan multibeam echosounder (MBES) maupun singlebeam echosounder (SBES) yang terpasang (mounted) pada kapal maupun portable. “MBES Teledyne Hydroswept DS terpasang di KR. Baruna Jaya I yang dapat memetakan laut sampai kedalaman 11.000 m atau 11 km dan merupakan satu-satunya yang dipunyai oleh Indonesia saat ini,” ungkap Hammam.

Selanjutnya, MBES Kongsberg EM304 terpasang di KR. Baruna Jaya III yang dapat memetakan laut sampai kedalaman 8.000 m atau 8 km. MBES Elac Seabeam 3050 portable digunakan di KR. Baruna Jaya II dan IV untuk memetakan laut sampai kedalaman 3.000 m atau 3 km. Selain itu, ada MBES Elac Seabeam 1180 portable yang dapat digunakan untuk memetakan laut dangkal sampai kedalaman 600 m menggunakan kapal non-Baruna Jaya.

Untuk melengkapi MBES, BPPT juga mempunyai peralatan singlebeam echosounder (SBES) untuk pemetaan laut dalam seperti Knudsen SBP di KR. Baruna Jaya 1 hingga kedalaman 6.000 m, SBES Syqwest bathy 2.000 di KR. Baruna Jaya III hingga kedalaman 4.000 m dan SBP Orotech di KR. Baruna Jaya 4 hingga 4.000 m. “Semua peralatan ini menjadi sebuah infrastuktur untuk pelayanan survei batimetri nasional. Dilengkapi dengan kemampuan dari berbagai institusi, kita akan mandiri dan berdaulat dalam penguasaan teknologi dan melaksanakan misi-misi survei batimetri,” kata Hammam.

Berbagai peralatan teknologi pemetaan untuk survei batimetri ini telah digunakan untuk berbagai kegiatan program nasional baik yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun swasta. Misalnya, untuk keperluan Batimetri Nasional, ekstensi LKI maupun berbagai keperluan untuk utilitas bawah laut seperti pipa bawah laut dan kabel serat optik untuk komunikasi, peralatan deteksi tinggi muka air laut untuk iklim dan kebencanaan, dan lain sebagainya.

Sebagai bagian dari komponen proses survei kelautan, Balai Teksurla memiliki Teknologi Command Center di Gedung BJ. Habibie, Jakarta yang berfungsi sebagai Pusat Pengendalian Operasi Survei. Command Center juga berfungsi menjadi Office Assisted Remote Services (OARS) yaitu teknologi eksklusif yang memungkinkan dapat membantu akuisisi dan pengumpulan data yang aman dan efisien tanpa memerlukan staf survei khusus di atas kapal survei. Command Center ini nantinya dapat memiliki peran penting dalam membantu mempercepat/melengkapi data Batimetri Nasional. (red)