Dirjen ILMATE: Pentingnya peran teknologi AI menuju industri 4.0

Jakarta, Itech-  Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Taufiek Bawazier menilai teknologi kecerdasan artifisial  (AI)  merupakan bagian terpenting dalam meningkatkan produktivitas di tujuh sektor prioritas menuju era revolusi industri 4.0. Sebelumnya, implementasi Making Indonesia 4.0 menitikberatkan pada lima sektor, yakni industri makanan dan minuman, tekstil dan busana, otomotif, kimia, serta elektronik.

Namun di tengah pandemi Covid-19, Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita menambah dua sektor lagi sebagai pionir, yakni industri farmasi dan alat alat kesehatan. Langkah ini sebagai komitmen dari pemerintah Indonesia untuk memperluas penerapan industri 4.0. Sebab, saat ini sektor tersebut sedang mengalami permintaan yang sangat tinggi. Sementara itu, lima sektor prioritas tersebut sudah berkontribusi ekonomi dari sektor industri sekitar 60 persen.

” Kalau kita lihat terminologi yang sederhana, AI adalah mengganti fungsi manusia atau mesin menjadi lebih digital. Jadi artinya ada machine languange yang dihasilkan dan semua data analytic bisa diproses sehingga pengambilan keputusan lebih cepat dan antisipasi kebutuhan demand di market,” ungkan  Taufiek  Bawazier  dalam webinar yang digelar oleh Asosiasi Big Data & AI (ABDI) bersana Huawei Indonesia dengan tema Strengthening Research & Innovation with AI to Foster Economic Recovery, pada Rabu (19/08).

Terkait perkembamgan riset dan inovasi, Taufiek membagi menjadi dua bagian yakni riset untuk riset dan riset untuk indsustri. Kami lebih fokus pada riset untuk membangun ekonomi. Pasalnya, dengan teknologi AI dapat meningkatkan produktivitas, menyerap tenaga kerja serta meningkatkan skill yang tinggi sehingga ekspor dan PDB ikut naik serta pajak yang besar sehingga dapat membiayai ekonomi Indonesia kedepan.

Diketahui, pemerintah telah berinisiatif untuk mempercepat pembangunan industri memasuki era industri 4.0 dengan sasaran utama menjadikan Indonesia sebagai 10 negara dengan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030.Tentunya percepatan ini juga akan membutuhkan kesiapan dari SDM kita, kesiapan industrinya dengan ditopang ketersediaan SDM yang kompeten.

“Knowledge harus ditingkatkan lagi sebab dari sisi industri memang membutuhkan orang orang atau  SDM yang adaptable terhadap perkembangan teknologi informasi khususnya teknologi AI yang tengah kita bahas dalam webinar ini.. Kita bisa lebh selektif terhadap  SDM tersebut demi kepentingan nasional,” tambahnya.

Sementara itu, Kementerian Riset dan Teknologi/BRIN mengapresiasi setiap inisiatif yang dilakukan agar kecerdasan artifisial dapat mewarnai berbagai sektor dalam kegiatan ekonomi di Indonesia. Kecerdasan artifisial menjadi salah satu upaya bagi Indonesia agar tidak hanya menjadi pasar melainkan juga mampu menjadi pemain dari Revolusi Industri 4.0.

“Indonesia tidak boleh hanya menjadi _market_ dari Revolusi Industri ke-4, Indonesia harus bisa menjadi _player_. Salah satunya _player_ dalam kecerdasan artifisial. Kami mengapresiasi inisiatif yang dilakukan oleh berbagai pihak agar kecerdasan artifisial mulai mewarnai kegiatan ekonomi di Indonesia di berbagai sektor,” ujar Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang PS Brodjonegoro 

Menurut Menristek/Kepala BRIN mengungkapkan bahwa kecerdasan artifisial di Indonesia harus bermanfaat bagi masyarakat, mampu menciptakan efisiensi dalam perekonomian, dan mampu menjadi dasar keunggulan inovasi Indonesia di masa depan.

“Pada akhirnya kita harus memikirkan bahwa kecerdasan artifisial di Indonesia: pertama, langsung bermanfaat buat masyarakat; kedua, harus bisa menciptakan efisiensi dalam perekonomian; dan ketiga, harus bisa menjadi dasar dari keunggulan inovasi kita di masa depan,” pungkas Menristek/Kepala BRIN (red)