2021, Kemenristek/BRIN Fokus Pembangunan ekosistem riset dan inovasi

0
20

Jakarta, Itech- Menristek/Kepala BRIN Bambang PS Brodjonegoro menutup secara resmi Rakor dengan tema “Membangun Ekosistem Inovasi” yang berlangsung selama dua hari 26-27 November 2020 di  Royal Ambarrukmo, Yogyakarta.

Menristek/Kepala BRIN menyampaikan perlunya penggunaan bahasa yang lebih lebih praktis dalam mengenalkan kegiatan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan (Litbangjirap) agar lebih mudah diingat dan dimengerti masyarakat umum. Penggunaan istilah Litbangjirap perlu disederhanakan menjadi riset dan inovasi.

“Biarkanlah Litbangjirap menjadi bahasa hukum, bahasa di peraturan. Dalam pembicaraan sehari-hari atau dalam diskusi kita pakai riset dan inovasi. Kalau memang akan disingkat bisa Risnov, karena riset adalah proses atau inputnya, dan inovasi adalah outputnya jadi kita bicara hulu sampai hilir juga,” ungkap Menristek/Kepala BRIN, seperti dikutip dalam rilis Kemenristek/BRIN di Jakarta, Senin (30/11/2020).

Pada Raker ini diusulkan perubahan Prioritas Riset Nasional (PRN) menjadi Prioritas Riset dan Inovasi Nasional (PRIN) yang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa kegiatan yang menjadi fokus bukan hanya tentang riset (input), melainkan juga inovasi (output). Riset dan Inovasi ke depan harus diarahkan ke arah keseimbangan memperhatikan demand pull dan supply push yang dibutuhkan di Indonesia.

“Lebih penting adalah menemukan ekuilibrium (keseimbangan), dilihat mana yang lebih tepat antara demand pull atau supply push. Perlu diperhatikan juga after sales quality control, agar produk yang dihasilkan terus berkelanjutan, karena kualitas produk yang dihasilkan akan berpengaruh pada kepercayaan,” terang Menteri Bambang.

Perubahan strategi pemasaran produk juga diperlukan, Menteri Bambang menekankan diperlukan upaya lebih sering melakukan eksposure dan launching dari produk yang sudah dihasilkan komunitas riset dan inovasi. Tujuannya menyampaikan kepada masyarakat bahwa peneliti, perekayasa, dosen di Indonesia telah banyak menemukan dan menghasilkan produk inovasi.

“Jangan sampai kita kehilangan momen, perlu dipercepat sehingga positioning atas produk dapat menjadi leader, bukan follower, kita harus agresif untuk ekspos produk yang paling tidak sudah jelas prototipenya dan sudah punya prospek untuk dikomersialisasi. We have to be a leader untuk inovasi di Indonesia sendiri,” ujar Menristek/Kepala BRIN.

Lebih lanjut Menteri Bambang menambahkan pembangunan ekosistem riset dan inovasi akan menjadi fokus Kemenristek/BRIN pada tahun 2021. Pelibatan pihak swasta atau industri kedepannya menjadi sasaran penting sebagai upaya bersama menumbuhkan kegiatan riset dan inovasi di Indonesia. Di sisi lain sinergi antar berbagai lembaga penelitian di Kementerian/Lembaga (K/L) perlu untuk diidentifikasi agar akselerasi dapat berjalan dengan baik.

“Kita harus mulai berubah dengan semangat inovasi ini, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 153 tahun 2020 mengenai super tax deduction sudah ada, harus all out mendorong swasta untuk mau ikut terlibat kegiatan RnD. Budaya riset saat ini adalah inovatif, kolaboratif, tidak ada yang bisa menang tanpa adanya kolaborasi bersama, maka itu perlu juga strategi jitu untuk akselerasi sinergi bersama K/L dan swasta,” tambah Menteri Bambang.

Raker Kemenristek/BRIN 2020 menghasilkan rumusan rekomendasi langkah-langkah strategis ke depan dalam menghadapi tantangan pembangunan terkait pengembangan, peningkatan kapasitas ilmu pengetahuan teknologi (iptek) dan penciptaan inovasi yang terbuka, fleksibel, bermutu serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan industri. (red)