BPPT Gandeng JICA Gelar Satreps Symposium

42

Jakarta, Itech- BPPT bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) menggelar  symposium  bertajuk “The 2nd International Symposium on Natural Resources-based Drug Development”. Simposium ini merupakan  bagian dari pelaksanaan kerjasama penelitian antara Intistusi Jepang dan Indonesia dalam kerangka Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (Satreps)

Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB-BPPT)  Soni Solistia Wirawan mengatakan, melalui simposium ini, diharapkan dapat terjadi pertukaran informasi serta penguatan jejaring dan kolaborasi riset, sehingga  kerjasama riset bidang kesehatan yang melibatkan berbagai lembaga riset Jepang-Indonesia segera terwujud.

“Selain itu, strategi untuk mewujudkan implementasi hasil riset kesehatan tersebut dapat direkomendasikan kepada Kementerian terkait. Simposium ini juga merupakan bagian dari program flagship Bahan Baku Obat (BBO) BPPT, ” katanya di Jakarta, (9/10).

Diketahui dalam symposium tersebut, perwakilan dari beberapa institusi kunci dalam bidang regulasi dan riset akan memaparkan hasil riset dan kebijakan terkait. Peneliti-peneliti kompeten dari Jepang dan Inonesia dalam bidang pengembangan bahan baku obat juga akan menyampaikan hasil inovasi dan teknologi terbaru di bidang kesehatan, khususnya penanganan penyakit menular.

Dilanjutkan Soni, BPPT mendapatkan banyak manfaat dari Satreps. Tidak hanya meningkatkan kapasitas lab berupa peralatan, program ini juga membantu meningkatkan kualitas SDM, terutama dalam kemampuan mendesign dan mengembangkan penelitian dari penemuan obat.

“Jadi program Satreps untuk lima tahun ini arah utamanya adalah capacity building. Pertama fasilitas risetnya dilengkapi, beberapa peralatan kita dapatkan dari JICA dan AMED. SDM dilatih dan disiapkan bagaimana mampu meng-handle resources kemudian memanfaatkan melakukan isolasi senyawa,” tuturnya.

Dilanjutkan Soni,  saat ini, penelitian dalam bidang kesehatan  telah mengalami kemajuan yang pesat. Capaian Iptek  telah banyak diaplikasikan untuk meningkatkan inovasi dalam bidang kesehatan. Sumber daya hayati yang melimpah di Indonesia adalah pertimbangan utama dan sumber daya dalam pengembangan teknologi produksi bahan baku obat-obatan dan obat tradisional.

“Diharapkan inovasi teknologi  dapat mempercepat proses transformasi dari keunggulan komparatif menjadi produk kompetitif,” tambahnya.  BPPT juga telah melakukan implementasi teknologi untuk produksi bahan baku farmasi berdasarkan sumber daya hayati seperti pengembangan teknologi untuk produksi bahan baku obat antibiotik beta-laktam, termasuk amoksisilin dan sefalosporin, permen karet xanthan, garam farmasi dan dekstrosa monohidrat.

Sementara itu, Kepala Balai Bioteknologi BPPT Agung Eru Wibowo menjelaskan, melalui proyek SATREPS, BPPT bersama dengan mitra telah melakukan penemuan obat untuk mencari kandidat obat antimalaria. Hal ini dilakukan karena obat yang ada sekarang dianggap sudah memiliki resistensi yaitu  keadaan di mana kuman tidak dapat lagi dibunuh dengan antibiotik. Proyek ini dimulai pada 2015 hingga April 2020 mendatang.

Dalam program ini, terdapat sekitar 25 ribu mikroba yang dimanfaatkan sebagai sumber bahan obat-obatan yang melimpah. Dalam lima tahun ini terdapat beberapa senyawa yang sudah terkarakterisasi. Salah satunya yakni penemuan obat untuk mencari kandidat obat antimalaria atau Searching Lead Compound of Anti-Malarial and Anti-Amoebic Agents by Utilizing Diversity of Indonesian Bio-resources (SleCAMA project). Dari 20 senyawa sudah diisolasi, sebanyak 10 potensinya sudah cukup kuat.

“Kita harapkan acara ini,  terjadi pertukaran informasi hasil-hasil riset yang telah dilakukan dalam mengatasi penyakit infeksi di Asia,” jelas Agung seraya menampaikan  hasil-hasil yang telah dicapai selama tahun 2018, diantaranya beberapa senyawa aktif anti malaria dan anti amuba telah didapat, baik dari mikroba maupun tanaman asli Indonesia. sedangkan koleksi mikroba  yang dimiliki BPPT menjadi aset penting dalam pengembangan obat, khususnya obat penyakit menular yang dibutuhkan Indonesia.

Terkait peran BPPT Agung menyebut, bahwa salah satuh prioritasnya adalah ketersediaan bahan baku obat. Sekarang BPPT juga sudah mencanangkan program prioritas nasional melalui program flaghship untuk pengembangan bahan baku obat.

Kolaborasi riset SATREP adalah bagian dari penguatan flagship, selain pengembangan bahan baku obat yang seperti antibiotik kita juga mengembangkan bahan baku obat yang lain untuk mendukung farmasi, seperti pengembangan obat penyakit infeksi berbasis sumberdaya hayati. (red/ju)