Teguh K : Semua Produk Miyako ber-SNI

Jakarta, Itech- Miyako, berasal dari nama salah satu hotel di Jepang, dengan konsep canggih dan layanan prima, menginspirasi pendiri PT Kencana Gemilang (KG) memberi nama yang sama untuk produk-produknya yang berkualitas khususnya di Indonesia.

PT KG, produsen Miyako, sejak 2007 menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) pada seluruh produknya. Kebijakan yang hingga saat ini masih belum diikuti seluruh produsen di bidang peralatan rumah tangga, karena sebagian besar aturan masih berbentuk SNI sukarela.

Hingga saat ini, SNI sukarela yang telah diterapkan PT. Kencana Gemilang yaitu untuk produk dispenser, blender, mikser, penanak nasi, pengering rambut, sandwich toaster, kompor gas usaha mikro, dan lain-lain. Sementara SNI wajib, untuk produk kipas angin, setrika, kompor gas satu tungku, kompor dua tungku, selang karet LPG, regulator tekanan rendah dan tekanan tinggi tabung baja LPG.

“Saat itu kesadaran masyarakat terhadap SNI belum tampak. Namun pimpinan berkomitmen menerapkan SNI guna meningkatkan standar kendati tetap menjaga harga relative terjangkau masyarakat,” ujar Teguh Kusriyanto, Quality Assurance Manager PT Kencana Gemilang dalam acara “ Ngobras SNI” di Jakarta, Jum’at (14/12).

Bagi kami, lanjut Teguh, SNI adalah bagian dari komitmen kami untuk melindungi keamanan, keselamatan dan kesehatan konsumen. Karena itu meski 12 dari 22 produk yang dihasilkan belum masuk kategori SNI wajib, perusahaan tersebut sudah menerapkan SNI sejak awal produk diluncurkan. Misalnya penanak nasi, blender, mixer, dispenser, penampung beras, kompor komersiil, pengering rambut, juicer, pemanggang roti, dan lainnya.

Tidak hanya itu, PT KG juga mengajak rekanan di luar negeri untuk juga terapkan SNI. Bahkan, lanjut Teguh, perusahaan juga menerapkan standar yang lebih tinggi dari SNI dan menambahkan parameter pengujian diluar parameter SNI. “Dalam beberapa point pengujian kami menerapkan standar internal perusahaan yang lebih tinggi minimal 20 persen diatas standar uji SNI,” ujarnya.

Pengujian tambahan untuk penanak nasi elektrik (rice cooker) dilakukan uji ketahanan lapisan non stick coating, uji kekuatan top cover spring, uji kekuatan clamp knop spring, uji kekuatan knop spring, dan uji kekuatan part plastik pada sistem buka tutup top cover assy, termasuk uji kekuatan lapisan coating setrika, dan lain-lain.

Tidak hanya mengandalkan laboratorium penguji yang ditunjuk pemerintah, PT. KG juga membangun laboratorium uji mandiri dengan fasilitas yang memadai untuk pengujian berbagai produk yang dihasilkan. Secara berkala juga dilakukan kegiatan inspeksi pada seluruh divisi atau bagian yang menangani bahan yang masuk, proses produksi serta hasil produksi. Tentu saja, secara periodik alat-alat uji tersebut dikalibrasi. Laboratorium kalibrasi juga dibangun mandiri.

Seiring berjalannya waktu, produk peralatan rumah tangga yang diproduksi PT KG semakin beragam dengan varian yang cukup banyak. “Kami upayakan membuat sendiri seluruh komponen tanpa bergantung impor. Tingkat kandungan dalam negeri produk-produk kami bisa capai 90 persen dan sisanya impor,” ujarnya.

Untuk menjaga kualitas, seluruh proses melalui tahapan yang sebagian besar andalkan dengan sistem outomasi. Mulai dari pembuatan cetakan (moulding), proses produksi (pembuatan part metal dan part plastik) hingga proses perakitan dan quality control . Peralatan sistem outomasi ini bahkan juga diproduksi sendiri dengan mendirikan perusahaan joint venture. “Kami memang berani berinvestasi lebih dibanding perusahaan-perusahaan lain guna mendukung kualitas produk yang dihasilkan,” ungkap Teguh.

Kendati dukungan teknologi canggih, produk berlabel Miyako tetap diprioritaskan untuk pasar dalam negeri dengan mempertahankan harga tetap dibawah pesaing produk sejenis. Walhasil, produk ini mampu dijangkau kalangan menengah kebawah. “Sekitar 95 persen, kami peruntukkan untuk pasar dalam negeri,” ujar Teguh.

Tidak hanya itu, PT KG juga melakukan strategi pemasaran dengan edukasi SNI pada masyarakat. “SNI tidak hanya standar bagi perusahaan, tapi juga mendukung perlindungan konsumen. Perusahaan lain, bahkan hingga kini masih ada yang belum menerapkan SNI kendati merk produknya sudah dikenal masyarakat. Karena memang prosedur SNI ketat dan dilakukan pengawasan secara berkala dari Pemerintah,” ungkapnya.

Diakui, menerapkan SNI tidak serta merta membuat omset penjualan produk Miyako di pasaran terus menanjak. Membutuhkan waktu lama untuk melihat pengaruh yang signifikan terhadap penerimaan pasar dan tingkat penjualan. Teguh mengakui menerapkan SNI membawa konsekuensi pembiayaan tak sedikit pada setiap produknya. Karena itu produk Miyako seringkali dijual dengan harga lebih tinggi dibanding produk sejenis di pasaran. Kisarannya bisa 10 persen hingga 15 persen dan itu cukup menjadi alasan bagi konsumen untuk memilih produk bermerek lain.

Untuk distribusi wilayah Timur, PT KG menggandeng mitranya PT Kencana Agung Sukses. Sedangkan wilayah Sumatera didistribusikan PT Wira Dwika . Dukungan layanan service center di Jawa tercatat 45 outlet, NTB dan NTT masing-masing satu outlet. Sumatera tercatat sekitar 24 service center, Kalimantan 4 outlet, dan Sulawesi sekitar 9 service center.

Sementara itu Kepala Biro Hukum, Organisasi dan Humas BSN Iryana Margahayu menyampaikan apresiasinya untuk Miyako. Perusahaan ini menjadi salah satu perusahaan yang memiliki komitmen sangat tinggi untuk menerapkan SNI. “Miyako selevel lebih tinggi dibandingkan perusahaan penerap SNI lainnya,” papar Iryana.

Tak hanya menjadi penerap SNI, Miyako lanjut Iryana juga menjadi salah satu tim penyusun parameter SNI untuk sejumlah produk elektronik rumah tangga dari unsur badan usaha. Keaktifan Miyako dalam penyusunan standar SNI ini diharapkan memberikan inspirasi bagi perusahaan lain untuk melakukan hal yang sama. (red)