IDI Prediksi Pasien Covid-19 Meledak Pasca Demo Tolak UU Ciptaker

38
Dokter dan Epidemiolog Khawatirkan Lonjakan Covid-19 Usai Demo Tolak Omnibus Law
IDI Prediksi Pasien Covid-19 Meledak Pasca Demo Tolak UU Ciptaker

Jakarta, Itech- Demontrasi yang terjadi akibat adanya putusan Omnibus Law UU Cipta Kerja banyak terjadi di berbagai daerah, seperti Jakarta, Jogjakarta, dan beberapa kota besar lain. Hal ini memberikan kekhawatiran tersendiri akan munculnya klaster baru penularan Covid-19. Karena diketahui bahwa, tanpa adanya kontak fisik pun seperti orasi, menyanyi atau berbicara saja dapat menularkan virus ini lewat droplet.


Hal tersebut dapat dengan mudah terjadi dikarenakan ribuan, bahkan jutaan manusia secara bersama-sama datang dari berbagai daerah. Sebagian dari mereka mengabaikan jaga jarak dan tidak menggunakan masker ketika mengikuti demonstrasi.

“Jika terinfeksi, mereka dapat menyebarkan virus saat kembali ke komunitasnya,” jelas M. Adib Khumaidi, selaku Ketua Tim Mitigasi Pengurus Bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Secara tertulis.


Kemudian dia kembali menjelaskan, Covid-19 dari segi medis dan sains sangat berisiko lebih tinggi menular dalam aktivitas demontrasi, jika dibandingan dengan aktivitas lain. Dalam perkiraannya, satu sampai dua minggu mendatang lonjakan masif Covid-19 akan terjadi.


Dia juga mengingatkan bahwa para tenaga kesehatan sudah kerepotan menangani jumlah pasien Covid-19 yang terus bertambah. Seperti yang dilansir dari tempo.co pada Jumat (09/10/20), total, hingga saat ini, dia menyebutkan ada 132 dokter dari 18 IDI Wilayah (provinsi) dan 61 IDI Cabang (Kota/Kabupaten) meninggal akibat Covid-19. Bahkan, fasislitas kesehatan juga sudah minim untuk menangani pasien Covid-19.


“Hal ini dikarenakan lonjakan pasien Covid-19 terutama orang tanpa gejala (OTG) yang mengabaikan perilaku protokol kesehatan di berbagai daerah juga meningkat,” jelasnya.

Kekhawatiran juga datang dari Zubairi Djoerban selaku Ketua Satgas Covid-19 PB IDI. Dia berharap bahwa pemerintah semestinya sudah mengantisipasi dan mempersiapkan terhadap risiko yang akan dihadapi bersama.


“Kalau membuat kebijakan yang diperkirakan bisa menuai demo, ya ditunda saja dulu,” ucapnya. (DAF)