HUT ke 32 Baruna Jaya, Balai Teksurla–BPPT Deklarasi Pakta Integritas

Jakarta, Itech– Dalam peringatan HUT ke 32 Baruna Jaya, Balai Teknologi Survei Kelautan (Balai Teksurla)– Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menggelar Deklarasi Pakta Integritas pada Rabu, (9/6). Selain dihadiri oleh Kepala BPPT Hammam Riza, hadir juga founding fathers Baruna Jaya – BPPT, Indroyono Soesilo. Makmuri para mantan Kepala Balai Teksurla, alumni (pensiunan), staf yang diperbantukan di kementerian/lembaga lain serta seluruh pegawai Balai Teksurla baik secara daring maupun luring melalui zoom meeting.

Menurut Kepala Balai Teksurla-BPPT, Djoko Nugroho, Balai Teksurla sedang mempersiapkan diri menuju Zona Integritas. Dimana tahap awal dalam membangun zona integritas adalah melaksanakan penandatanganan pakta integritas yang harus dilakukan oleh pimpinan dan seluruh staf. Dalam menerapkan zona integritas, terdapat 6 komponen pengungkit yang harus dilaksanakan yaitu manajemen perubahan, penataan tata laksana, penataan sistem manajemen, penguatan akuntabilitas, penguatan pengawasan dan peningkatan kualitas pelayanan publik.

Sebagai bagian dari akuntabilitas, Balai Teksurla melakukan launching buku 3 Dekade Armada Kapal Riset Baruna Jaya BPPT 1989-2019 “Mengabdi untuk Kejayaan Maritim NKRI”. Buku ini berisi sejarah serta dokumentasi kegiatan pelaksanaan riset, observasi, inovasi dan layanan teknologi serta bakti teknologi survei kelautan baik yang berskala nasional maupun internasional. Melalui even ini sekaligus menjadi ajang untuk mendiskusikan masa depan Balai Teknologi survei kelautan setelah terbitnya Perpres no.33 tahun 2019.

“Balai Teksurla memiliki empat kapal. Kapal Baruna Jaya I sampai IV. Semua peralatan sudah diinstal secara permanen dan juga sesuai kebutuhan. Jadi saya kira kemampuan Kapal Baruna Jaya sangat istimewa karena dilengkapi alat-alat yang canggih di dalamnya, tinggal peralatan yang diinstal sesuai kebutuhan. Jadi kita memilih peralatan tentunya yang dibutuhkan, kita akan melengkapi sensor-sensor sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Sedangkan Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT Yudi Anantasena menyampaikan terkait teknologi Cable Base Tsunameter (CBT) yang akan menggunakan sensor-sensor bawah laut dengan menghubungkan sensor tesebut ke darat. Kesuksesan Ina-TEWS khususnya CBT diperlukan kerjasama dan kontribusi serta partisipasi seluruh elemen baik pemerintah maupun mitra untuk menjaga kesinambungan alat-alat ini. Seperti diketahui, Balai Teksurla juga berkiprah dalam melaksanakan berbagai tugas prioritas Nasional seperti Program Penguatan dan Pengembangan InaTEWS terutama untuk deployment Buoy Tsunami dan Survei Laut Jalur kabel Ina-CBT.

Sementara itu, Kepala BPPT, Hammam Riza dalam sambutan peringatan HUT 32 Tahun Baruna Jaya., mengungkapkan bahwa keberadaan Balai Teksurla yang merupakan salah satu satuan kerja (satker) di BPPT tidak terlepas dari sejarah pengadaan Kapal Riset Baruna Jaya BPPT. Untuk melakukan inventarisasi potensi sumberdaya laut, the founding father BPPT, Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie menetapkan pelaksanaan program KR. Baruna Jaya melalui serangkaian pengadaan KR Baruna Jaya I, II dan III dari 1985-1986 dan KR Baruna Jaya IV pada 1993.

Semenjak tiba KR. Baruna Jaya tahap I pada 5 Mei 1989 dibentuk Tim Pengelola KR. Baruna Jaya dengan Ketua Dipl. Ing. Basrie M. Ganie untuk Program Inventarisasi Sumberdaya Laut. Peristiwa ini menjadi tonggak kelahiran KR Baruna Jaya BPPT yang dalam perjalanannya melaksanakan kegiatan baik dalam project based (sampai dengan 1998), maupun dibawah unit kerja eselon, seperti Unit Pelaksana Teknis (1998-2004) hingga Balai Teksurla (2004-sekarang).

“Sebagai unit Satuan Kerja yang melaksanakan fungsi pelayanan teknologi survei dan observasi kelautan, Balai Teksurla memiliki berbagai keunggulan kompetensi dan kemampuan untuk Pemetaan, Infrastruktur laut, Met-Ocean, EBA, Kebumian, Eksplorasi Migas, Geodinamika, Kebencanaan, Perikanan dan Lingkungan laut,” kata Hammam.

Lebih lanjut Hammam menerangkan capaian yang telah ditorehkan oleh Balai Teksurla dengan wahana utamanya KR. Baruna Jaya. Beberapa milesstone kinerja ditorehkan diantaranya melalui project Marine Resource and Evaluation Project (MREP) pada 1993-1995, Survei Arus Lintas Indonesia (Arlindo) 1991-1999, dan Survei Pengkajian Sumberdaya Laut (PPSPL) 2001-2002. Capaian lainnya adalah Ekspedisi INDEX SATAL 2010 kerjasama dengan Amerika Serikat untuk mengkaji berbagai aspek laut dalam di Laut Sulawesi, Survei Landas Kontinen Ekstensi Indonesia di Barat Aceh (2009), di utara Papua (2019) dan di Barat Sumatra (2020), dan sebagainya. (red)