COP 24 Polandia: BPPT Sampaikan Peran Teknologi, Antisipasi Perubahan Iklim

Jakarta, Itech- Indonesia berpartisipasi di The 24th session of the Conference of the Parties (COP 24) digelar oleh United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di Katowice, Polandia.

Dikatakan Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) BPPT, Hammam Riza bahwa pada COP ke 24 inipun, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), kepada seluruh negara peserta turut menceritakan bagaimana peran teknologi dalam menjaga perubahan iklim.

Diakui olehnya, bahwa tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau sustainable development goal (SDG) merupakan cita-cita umat dunia, utamanya Indonesia sebagai 10 negara dg Perekonomian yg kokoh. “Kami di bidang teknologi pengembangan sumberdaya alam memberi perhatian khusus pada SDG-13 perubahan iklim dan SDG-14 kelautan untuk menjadi pilar pertumbuhan ekonomi maritim Indonesia,” papar Deputi Hammam di COP 24.

“Beragam upaya dalam pengendalian perubahan iklim, yang telah dilakukan oleh Indonesia, mulai dari tingkat lokal, nasional hingga global seluruhnya dipaparkan di Paviliun Indonesia pada COP-24 UNFCCC di Katowice, Polandia,” ungkap Deputi Hammam via pesan instan dari Polandia, Kamis (13/12).

Peran teknologi menurut Hammam dalam menjaga perubahan iklim di Indonesia sudah mulai diterapkan dengan baik. Hal ini, dikatakan pada Indonesia Ocean Days 11 Des 2018, diawali oleh sinergi dan komitmen yang kuat antar Kementerian/Lembaga.

“Kami di BPPT tentunya telah menerapkan berbagai teknologi, semisal National Oceanographic Data Center (I-NODC) untuk pusat data kelautan seperti untuk monitoring _marine debris_, _acidification_, cuaca, perikanan dan _Ocean hazard_ yg menyebabkan bencana kelautan,” paparnya.

Selain itu dalam mengantisipasi perubahan iklim ini BPPT sepanjang tahun 2018 juga gencar melakukan operasi teknologi modifikasi cuaca. “Teknologi modifikasi cuaca, terus kami lakukan sepanjang tahun 2018 dalam menghadapi kebakaran lahan dan hutan. Supaya lebih masif, kami butuh tambahan armada pesawat yang kompatibel untuk operasi modifikasi cuaca lainnya,” tuturnya.

Selain itu dikatakan Deputi TPSA bahwa BPPT juga memiliki upaya penting dalam melakukan upaya survei kelautan melalui layanan teknologi Kapal Riset Baruna Jaya. “Kami pun telah melakukan survei bawah laut terhadap dampak gempa dan tsunami di Palu-Donggala. Hasilnya akan kami sampaikan nanti setelah lengkap dimatangkan akurasi laporannya,” sebutnya.

Selain itu sebagai dukungan terhadap program nasional Sungai Citarum Harum, dirinya juga menyebut teknologi dapat berperan dalam pengolahan air limbah, serta monitoring kualitas air secara online dan real time. “Kami di BPPT selalu siap mendukung upaya pemerintah dan dunia internasional dalam mengantisipasi perubahan iklim,” sebutnya.

Sebagai informasi, Indonesia telah menyatakan komitmen berkontribusi menurunkan emisi Gas Rumah Kaca pada tahun 2030 sebesar 29% dengan upaya sendiri dan sampai dengan 41% melalui kerjasama internasional. Kehadiran delegasi dan paviliun Indonesia pada COP 24 diharapkan dapat mereprentasikan upaya-upaya Indonesia dalam perubahan iklim. (red)