BATAN Kembangkan Varietas Unggul Kedelai

0
52

Jakarta, Itech- Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) telah menghasilkan 14 varietas kedelai unggul yang bisa menjadi salah satu upaya mengatasi kelangkaan kedelai di Indonesia. Varietas unggul kedelai hasil mutasi radiasi gamma tersebut diharapkan dapat meningkatkan produksi kedelai nasional.

Kepala Batan, Anhar Riza Antariksawan mengatakan kurangnya pasokan kedelai akan memicu naiknya harga kedelai di pasaran sehingga berdampak pada produksi makanan berbahan baku kedelai. “Kedelai merupakan salah satu bahan pangan yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, apalagi kedelai terkait erat dengan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia, yaitu tempe, tahu, dan kecap,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar secara daring pada Rabu (13/1).

Menurutnya, kelangkaan kedelai ini menjadi hal yang serius dan perlu dicarikan solusinya sesegera mungkin. Kenaikan harga kedelai di Indonesia dikarenakan naiknya harga kedelai impor. Sementara kebutuhan kedelai nasional saat ini, sebagian besar dipenuhi melalui impor. “Sebagai lembaga penelitian, Batan melihat hal ini juga sebagai momentum untuk kembali menguatkan program swasembada kedelai secara nasional. Permasalahan ketersediaan benih unggul, lahan, dan harga kedelai perlu dicarikan solusi oleh semua kementerian dan lembaga yang terkait,” tambahnya.

Sebagai bentuk kontribusi dalam upaya meningkatkan produksi kedelai nasional, Batan telah berkontribusi dalam penyediaan benih unggul kedelai. Hingga saat ini Batan telah menghasilkan 14 varietas unggul kedelai yaitu Muria, Tengger, Meratus, Rajabasa, Mitani, Mutiara 1, Mutiara 2, Mutiara 3, Gamasugen 1, Gamasugen 2, Kemuning 1, Kemuning 2, Sugentan 1, dan Sugentan 2. Sebagian besar varietas tersebut telah diperkenalkan kepada para petani melalui program pendayagunaan hasil litbang iptek nuklir yang bekerja sama dengan pemerintah daerah dan perguruan tinggi.

Menurut Anhar, varietas kedelai Batan memiliki rata-rata kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan kedelai impor. Sementara kandungan lemaknya sedikit lebih rendah dibandingkan kedelai impor. “Varietas unggul kedelai Batan dihasilkan melalui sebuah proses yang memanfaatkan radiasi gamma. Pengembangan produksi varietas unggul baik padi dan kedelai menjadi salah satu program prioritas Batan,” ungkapnya.

Kegiatan pemuliaan tanaman di Indonesia untuk perbaikan varietas padi dirintis sejak 1972 melalui kerjasama dengan Badan Tenaga Atom Internasional. Untuk perbaikan varietas kedelai dimulai pada 1977 dengan teknik mutasi radiasi untuk mengatasi permasalahan yang dialami varietas lokal. Perbaikan varietas ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, mempersingkat umur tanam dan membuat tanaman lebih tahan hama

Anhar berharap varietas kedelai Batan dapat dimanfaatkan secara nasional. Namun demikian, persoalan peningkatan produksi kedelai tidak hanya ditentukan oleh jenis varietasnya saja, tetapi dipengaruhi oleh faktor lain seperti teknik budi daya, ketersediaan lahan, dan harga kedelai di tingkat petani.

“Terkait ketersediaan lahan dan harga kedelai di tingkat petani, bukan merupakan kewenangan Batan sehingga saya berharap ada kebijakan kementerian teknis terkait dan pemerintah daerah yang dapat membantu petani yang bersedia menanam kedelai agar produktivitas kedelai secara nasional benar-benar bisa meningkat,” harapnya.

Prospek Penelitian Kedelai

Pada tahun 2020, pemerintah melalui Kementerian Pertanian menargetkan peningkatan produksi kedelai 7% yakni dari 358.627 ton pada tahun 2019 menjadi 383.371 ton pada 2020. Untuk mencapai hal ini, pemerintah membuat program 300.000 ha di 21 provinsi ditanami kedelai.

Deputi Pendayagunaan Teknologi Nuklir, Totti Tjiptosumirat mengatakan, terkait upaya pemerintah meningkatkan produksi kedelai nasional, Batan turut berkontribusi dalam penyediaan benih unggul kedelai hingga mencapai 5 ton. “Benih kedelai saat itu yang tersedia adalah varietas Anjasmoro, Grobogan, dan Mutiara 1. Benih FS Mutiara 1 yang disiapkan oleh Batan pada akhir tahun 2018 lebih kurang 5 ton,” kata Totti.

Melihat kondisi ketersediaan pasokan kedelai nasional yang belum mencukupi, lanjut Totti, prospek penelitian dan pengembangan varietas kedelai di Batan sangat baik. Terlebih lagi Lembaga Tenaga Atom Internasional/International Atomic Energy Agency (IAEA) memberikan dukungan penuh kepada Indonesia melalui program kerja sama teknik. “Keseriusan Batan dalam melakukan penelitian kedelai ini dibuktikan dengan melepas 4 varietas tanaman kedelai pada dua tahun terakhir, yaitu varietas Kemuning 1 dan Kemuning 2 untuk kedelai tahan cekaman, dan varietas Sugentan 1 dan Sugentan 2,” tambahnya. (red)