7 Kandidat Anugerah Iptek Labdha Kretya Paparkan Produk Inovasi

Jakarta, Itech- Sebanyak 7 nominator terpilih memaparkan berbagai aspek terkait dengan indikator-indikator yang menjadi objek penilaian, sebagai rangkaian Anugerah Iptek dan Inovasi  Nasional Labdha Kretya 2019.

Anugerah Labdha Kretya diberikan kepada masyarakat umum/ akar rumput (grass-root innovation) atas prestasi pelaksanaan inovasi yang berhasil dan dapat menghasilkan nilai tambah baik dalam bentuk komersil, ekonomi maupun sosial-budaya untuk menghasilkan produk inovasi yang dapat menjadi penguat daya saing bangsa.

Ketujuh nominator tersebut, antara lain  pertama, Rekayasa Mesin Serut Bambu Multifungsi 3 in 1 Sebagai Terobosan Untuk Pemenuhan Kebutuhan Industri tusuk sate dan aneka kerajinan bambu (Karanganyar).

Ketiga, Inovasi  Pembenihan Kepiting Bakau (Provinsi Bali). Ketiga, Inovasi  Bending 3 Axis Man-tech (Grobogan). Keempat, Inovasi Minyak Serai Wangi  (Ogan Ilir),  Kelima, inovasi Mas Jawa T-Netra (Money Android Scanner Jawaban Masalah Tunanetra) dengan metode optical character recognition (Pati).  Keenam, inovasi Bioreaktor Kapal Selam  (Pati Energi). Ketujuh,  inovasi Roti Gaplek Inagiri  (Wonogiri).

“Anugerah ini bertujuan mendorong peningkatan kemampuan iptek yang bukan hanya berasal dari kalangan perguruan tinggi atau lembaga litbang. Sebagaimana kita ketahui banyak sekali produk yang hadir dan lahir dari kalangan masyarakat atau akar rumput,” ungkap Kepala Sub Direktorat Kemitraan Strategis dan Wahana Inovasi Kemenristekdikti, Eka Gandara di Jakarta, Kamis (25/7).

Lebih lanjut dikatakan, produk inovasi dari masyarakat berbeda dengan inovasi dari perguruan tinggi dan lembaga litbang karena terkait sumber daya manusia, sarana prasarana maupun metodologinya. Namun, tujuannya sama yaitu bagaimana meningkatkan nilai tambah. Karena itu, alat ukur yang digunakan agak berbeda dari alat ukur untuk menilai tingkat kesiapan teknologi produk inovasi perguruan tinggi dan lembaga litbang.

“Inovasi dari masyarakat biasanya berawal dari masalah yang ada di masyarakat, kearifan lokal, dan lain-lain, tetapi tidak menutup kemungkinan pula produk inovasi ini justru menjadi solusi bagi permasalahan bukan hanya di daerah itu sendiri tapi bisa antar provinsi bahkan permasalahan nasional. Produk inovasi masyarakat yang punya dampak lebih luas akan memiliki penilaian tinggi,” jelas Eka.

Menurut dia, berbeda dengan penyelengaraan sebelumnya, tahun ini pihaknya mewajibkan adanya kehadiran pemerintah daerah melalui Bappeda dan Balitbangda. Bagi setiap inventor yang mengikuti perlombaan ini diwajibkan mendapat surat pengantar dari Pemda. Dengan ketentuan ini diharapkan Pemda hadir di tengah-tengah masyarakat terutama dalam aktivitas pengembangan inovasi di masyarakat.

Pemerintah daerah dilibatkan sebagai pendamping inovator yang mengikuti seleksi anugerah ini. Pada tahap awal seleksi menggunakan tools Sistem Inovasi Kearifan Lokal (SOKA) yang khusus didesain untuk mengukur produk inovasi yang dikembangkan masyarakat.

Selama kurang lebih hampir 1 bulan telah terjaring 41 inovator yang berasal dari 24 kabupaten/kota dari 6 provinsi dengan 8 bidang fokus. Dalam proses penjurian ada 6 komponen aspek yang dinilai, yakni perencanaan, infrastruktur, kapasitas SDM, Sistem informasi, budaya inovasi dan hasil inovasi.

Seperti diketahui, Penyerahan Anugerah Iptek dan Inovasi Nasional Labdha Kretya 2019 kepada para pemenang akan diserahkan pada Malam Apresiasi Anugerah Iptek dan Inovasi pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi (Hakteknas) bersama para pemenang anugerah lainnya yakni: Budhipura, Budhipraja, Prayoga Sala, Abyudaya, Adibrata, Labdha Kretya dan Widya Kridha pada 27 Agustus 2019 di Denpasar, Bali. (red)