Sistem e-Voting Lebih Unggul Ketimbang Konvensional

50

Jakarta, Itech – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi  (Menristekdikti) Prof Mohamad Nasir mendorong  Pemilu dan Pemilukada  bisa dilakukan melalui  teknologi yang dihasilkan anak bangsa yakni  pemungutan suara sistem elektronik atau electronic voting (e-Voting) yang dikembangkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

“e-Voting dihasilkan BPPT sudah diterapkan di beberapa daerah.  Di Kabupaten Pemalang misalnya, e-Voting  bersama dilakukan di 18 desa secara bersama dengan tingkat kesalahan nol persen,” kata  Menteri  Nasir dalam acara Buka Puasa Bersama Keluarga Besar Puspiptek di  Serpong, Tangsel, Senin (20/5). Hal ini menandakan, penerapan sistem e-voting ini lebih unggul jauh ketimbang pelaksanaan pemilihan konvensional.

Lebih lanjut Nasir menambahkan terdapat tahapan yang dilakukan secara elektronik, yaitu pemilihan, verifikasi, penghitungan dan rekapitulasi. Secara elektronik sudah tidak bisa dimanipulasi. Pasalnya,  formulir C1 sudah dilengkapi dengan tanda tangan digital yang akan otomatis hilang bila ada perubahan data sedikit saja.

Terkait  e-Verifikasi untuk memverifikasi apakah calon pemilih sudah masuk dalam Daftar Pemilh tetap (DPT)  yang telah ditetapkan oleh Ditjen Dukcapil (Kependudukan dan Catatan Sipil), Kemendagri.   Verifikasi dilakukan dengan menggunakan KTP. Jika KTP-nya palsu akan ditolak secara otomatis.

Tahapan  berikutnya adalah prosesnya pencoblosannya hanya dengan menunjuk gambar sesuai pilihan. “Pada saat pencoblosan ditutup jam 13.00, bisa langsung dilihat semua hasilnya, berapa warga yang mencoblos, berapa yang tidak dan lain-lain. Hasil uji coba yang dilakukan BPPT tingkat kesalahannya nol persen sehingga  sangat akurat,” kata Menristekdikti

Karenanya, Menristekdikti berharap, teknologi e-Voting bisa diterapkan untuk level  daerah   lain seperti e-voting   Pilkada untuk  Pemilihan Bupati,  Walikota maupun  Gubernur. “Harapan saya karena sudah ada beberapa kabupaten yang berhasil, kabupaten dan walikota yang lain bisa mengikuti hal yang sama sehingga efisiensi bisa dilakukan,” lanjutnya.

Masih menurut Menristekdikti, yang terpenting adalah bagaimana mengedukasi masyarakat.  “Kalau ini kita terapkan teknologi ini pada sistem Pemilu yang ada sekarang akan menyelesaikan berbagai masalah dan pelaksanaannya akan jauh lebih baik,” terangnya. Dengan kata lain, proses Pemilu secara elektronik ini tentu akan meningkatkan akuntabilitas dan transparansi pelaksanaan pemungutan suara. (red/ju).