Seleksi Industri Kategori Abyudaya akan Hasilkan 3 pemenang

31

Jakarta, Itech-  Seleksi Anugerah Iptek dan Inovasi 2019 Kategori Abyudaya kembali digelar.  Anugerah ini diberikan Kemerinstekdikti kepada industri atas keberhasilan inovasi yang memberikan nilai tambah, baik dalam bentuk komersil, ekonomi maupun sosial budaya.

Industri yang menjadi nominator kategori Abyudaya adalah PT Industri Telekomunikasi Indonesia, PT Pertamina, PT Pindad, PT Pupuk Kaltim, PT Kapsulindo Nusantara, PT Karya Daya Syafarmasi, PT Powertech Nano Industri, PT Rekaindo Global Jasa, PT Rekadaya Multi Adiprima, PT Samudera Luas Paramacitra, PT Tesena Inovindo, PT Xirea Silicon Technology, dan PT Zenith Allmart Precisindo.

Yah, para peserta seleksi Anugerah Abyudaya merupakan industri atau badan usaha yang telah bekerja sama dengan lembaga litbang atau perguruan tinggi (PT) di Indonesia. Dalam proses seleksi ini, inovasi yang dinilai merupakan kerja sama antara industri dan lembaga Litbang/PT terutama dalam upaya kolaborasi pengembangan produk serta upaya meningkatkan efisiensi dan atau efektivitas produksi manufaktur.

“Kita mencoba melihat ekosistem yang ada di industri itu seperti apa. Mereka tidak semata-mata mencari keuntungan, tetapi ikut terlibat dalam menyelesaikan masalah-masalah yang kita butuhkan. Industri tentu ingin agar apa dihasilkannya laku di pasar. Karena itu, kita mendorong industri supaya bekerjasama atau berkomunikasi dengan pemerintah daerah khususnya apa yang mereka butuhkan,” terang Direktur Sistem Inovasi Kemenristekdikti, Ophirtus Sumule di gedung BPPT Jakarta, (31/7).

Ophirtus memberi contoh, alat-alat radar untuk kapal nelayan sangat dibutuhkan  Pemda. Namun kadang pemda tidak tahu meminta ke mana sehingga perusahaan asing masuk untuk mensuplai kebutuhan radar tersebut. Padahal, kita memiliki kemampuan untuk memproduksinya.

“Tidak itu saja, setelah peralatan-peralatan itu masuk untuk dipakai masyarakat memerlukan perawatan dan pengembangan. Karena itu, kita mendorong industri untuk bekerjasama dengan lembaga Litbang dan perguruan tinggi yang memiliki SDM untuk mengembangkan teknologi ke depan,” terangnya.

Salah satu indikator penilaian anugerah ini adalah bagaimana industri bekerjasama dengan PT  dengan lembaga Litbang, serta bersama-sama membiayai riset tersebut. Kedepan, pihaknya akan memformulasikan kemampuan perguruan tinggi dan industri, serta kebutuhan Pemda dan masyarakat, serta keterlibatan UKM.

Staf Ahli Menristekdikti Bidang Relevansi dan Produktivitas, Agus Puji Prasetyono menambahkan, industri bisa berperan dengan memberi saran kepada perguruan tinggi dan lembaga litbang agar produk risetnya bisa langsung hilirisasi atau dikomersialisasi. “Jadi apa yang ada di litbang bagaimana caranya supaya bisa dimanfaatkan di industri. Untuk itu produk-produk yang sifatnya demand pull harus kita utamakan,” terangnya.

Menurutnya, banyak produk yang masuk seleksi anugerah ini memiliki sifat komersial dan bisa dimanfaatkan masyarakat, sehingga perlu didanai pemerintah agar bisa mempercepat kemandirian bangsa di bidang iptek. Agus Puji juga menekankan pentingnya sinergi antara industri dan lembaga litbang atau perguruan tinggi.

“Kalau kita biarkan lembaga litbang jalan ke mana, industri jalan ke mana, tidak akan ketemu nanti. Ini harus disatukan. Untuk mencari penyatuan itu kita harus interaksi dengan industri,” lanjutnya.

Agus Puji mencontohkan produk katalis yang dikembangkan Institut Teknologi Bandung (ITB) jika tidak disambungkan dengan Pertamina maka tidak akan terjadi hilirisasi. Dengan sinergi itu, hasil riset ITB bisa dimanfaatkan.

Untuk membidik industri yang benar-benar berbasis riset, lanjutnya, industri akan dinilai bagaimana mereka memiliki kerjasama di bidang riset, anggaran, dan fasilitas. Serta roadmap ke depan apakah research and development (R&D) industri tersebut melibatkan perguruan tinggi atau lembag litbang.

“Kepandaian dan kompetensi kan ada di universitas dan lembaga litbang, kalau produksi, keuntungan dan revenue ada di industri. Ini kita satukan. Dari awal itu kita harus berkomunikasi dengan industri, tidak bisa PT/ Litbang meneliti sendiri kemudian di tawarkan ke industri. Ke depan saya yakin kemandirian bangsa ini mulai dari kegiatan-kegiatan seperti ini akan menjadi nyata menjadi lebih maju,” tutupnya. (red)