Pengunjung Antusias Saksikan Gerhana Matahari Cincin

56

Jakarta, Itech-  Sejumlah warga menyaksikan fenomena Gerhana Matahari Cincin (GMC) menggunakan teleskop dari dak atap lantai 3  gedung PP-Iptek, TMII, Jakarta, Kamis (26/12). Mereka menggunakan kacamata khusus serta kamera dengan lensa khusus tampak  antusias mengamati fenomena langka GMC yang melewati sebagian wilayah di Indonesia

GMC terjadi ketika bulan berada segaris dengan bumi dan matahari, namun piringan bulan lebih kecil dari piringan matahari sehingga piringan matahari tidak tertutup dengan sempurna. Hal inilah yang menyebabkan matahari tampak seperti cincin, yaitu gelap di bagian tengah dan terang di bagian pinggirnya.

Kepala Divisi Operasi PP-Iptek Setyo Purnomo,mengatakan ada beberapa jenis gerhana matahari yaitu gerhana matahari total, gerhana matahari cincin, dan gerhana matahari sebagian. GMC merupakan fenomena langka yang tahun ini bisa terlihat di beberapa provinsi di Sumatera dan Kalimantan. “Peneropongan gerhana matahari cincin ini hanya di tempat-tempat tertentu, salah satunya di PP-Iptek. Kami berkontribusi untuk ikut mengedukasi masyarakat bahwa gerhana matahari cincin ini merupakan salah satu fenomena sains,” kata Setyo.

Aksi menonton fenomena gerhana matahari dimulai  dari pukul 10.30 hingga 14.30 WIB, PP-Iptek menyediakan empat unit teleskop yang dilengkapi filter matahari. Salah satu teleskop dihubungkan dan ditampilkan ke televisi. Tipe teleskop yang digunakan yaitu CPC 800, Coronado, Celestron Advance 6, dan Celestron Firstscope 114 EQ. PP-Iptek juga menyediakan kacamata matahari yang bisa dipinjam oleh pengunjung.

Selama pengamatan menggunakan teleskop pengunjung juga dapat, menyaksikan live streaming munculnya GMC di wilayah-wilayah yang dilintasi, serta simulasi GMC di area Wahana Temporer PP-Iptek. Melalui acara pengamatan GMC masyarakat mulai peduli terhadap fenomena alam. “Kami berharap bisa tercipta masyarakat yang berbudaya iptek. Segala sesuatu yang muncul di alam tidak dikaitkan dengan klenik atau mitos tapi dikaitkan dengan sains dan teknologi,” lanjutnya.

Sementara itu,  Staf Program Sains PP-Iptek Sri Wahyu Cahya Ningsih,  mengatakan gerhana matahari merupakan fenomena alam yang terjadi setiap tahun, namun belum tentu fenomena ini melintas di wilayah yang sama setiap tahunnya. Secara sederhana, gerhana matahari terjadi ketika matahari – bulan – bumi berada pada satu garis lurus.

Namun kesegarisan ini tidak terjadi setiap saat karena orbit bumi mengelilingi matahari tidak satu bidang dengan orbit bulan mengelilingi bumi, melainkan miring sekitar 5,1 derajat terhadap ekliptika atau bidang orbit bumi mengelilingi matahari. Karena kemiringan orbit bulan inilah, gerhana matahari hanya terjadi pada momen matahari dekat dengan titik simpul orbit bulan mengelilingi bumi terhadap ekliptika.

Tidak setiap fase bulan baru, bulan berada tepat sejajar dengan bumi dan matahari. Karena itu gerhana matahari hanya dapat dilihat oleh sebagian wilayah saja di penjuru dunia. Contohnya Gerhana Matahari Total yang pernah terjadi pada 9 Maret 2016 yang hanya melintas dan dapat dilihat di wilayah Palembang, Bangka, Belitung, Sampit, Palangka Raya, Balikpapan, Palu, Poso, Luwuk, Ternate, dan Halmahera.

Menurut Sri, GMC terakhir yang melewati Indonesia terjadi pada tahun 2009. “Gerhana matahari cincin akan melewati sebagian wilayah di Indonesia pada 26 Desember 2019 seperti Padang Sidempuan, Duri, Batam, Siak, Karimunbesar, Tanjung Batu, Bintan, Tanjung Pinang, Singkawang, Pemangkas dan Sambas. Sementara itu, wilayah yang lainnya akan mengalami gerhana matahari sebagian (GMS),” terangnya.

Di Jakarta, piringan matahari akan mencapai 72% dengan puncak gerhana yang akan terjadi sekitar pukul 12.36 WIB. Fenomena gerhana matahari ini sangat langka untuk disaksikan di Indonesia, namun tidak dianjurkan langsung melihat matahari tanpa alat apa pun karena bisa merusak mata.

Beberapa cara yang bisa dipakai untuk melihat gerhana matahari antara lain menggunakan teleskop. Namun Sri memberi catatan agar teleskop tersebut diberi filter untuk mengurangi intensitas cahaya matahari. “Bisa juga menggunakan kacamata matahari namun tidak boleh terus menerus melihat ke arah matahari. Walaupun sudah memakai kacamata matahari tapi tidak secara keseluruhan menghalangi cahaya matahari,” terangnya.

Cara lainnya dengan membuat alat bernama kamera pin hole untuk merefleksikan gerhana ke layar melalui satu titik kecil. Pada kesempatan tersebut Sri tidak menganjurkan mengamati gerhana menggunakan seember air sebab air bersifat memantulkan dan tidak ada penyerapan cahaya sehingga masih berbahaya. “Sebagai science center, PP Iptek merupakan pusat pembelajaran. Dengan adanya GMC kami mengajak masyarakat untuk belajar bersama bagaimana gerhana matahari bisa terjadi secara sains,” ungkapnya. (red)