Kehidupan Pribadi dan Pekerjaan Tak Seimbang Picu Keamanan Siber

32

Jakarta, Itech- Orang-orang sekarang sering menghabiskan lebih banyak waktu di kantor daripada di rumah. Belum lagi, sebanyak seperempat orang melakukan tugas perusahaan di luar kantor. Ini menunjukkan bahwa keseimbangan kehidupan kerja yang ideal mungkin tidak dapat dicapai dalam masyarakat modern seperti saat sekarang ini.

Kehidupan pribadi dan professional sekarang bergantung pada data yang tersimpan di media sosial, akun email, dokumen digital, dan folder bersama. Studi terbaru kami menunjukkan banyak kekacauan dalam file bisnis dan manajemen kredensial.
Matinya Keseimbangan Antara Kehidupan Pribadi dan Pekerjaan

Saat ini, kita semua diharapkan untuk tetap bekerja sedikit lebih lama, apakah itu untuk one-off meeting, deadline yang ketat. Bagi jutaan pekerja, bekerja lembur diperlukan untuk melakukan pekerjaan mereka secara efektif. Bahkan, diperkirakan bahwa pekerja di Meksiko menghabiskan rata-rata 43 jam seminggu, diikuti dengan pekerja di Kosta Rika, Yunani, dan Korea Selatan yang menyusul dalam daftar.

Keadaan demikian meskipun diterima, telah menyebabkan para pekerja kewalahan untuk mengelola kehidupan profesional dan pribadi mereka. Meninggalkan barang-barang pribadi di kantor dan melakukan tugas-tugas rumah tangga di meja kerja adalah hal yang biasa. Bukan menjadi hal yang aneh bagi pekerja untuk memiliki pakaian ganti di kantor mereka, jadi mengapa tidak berlaku yang sama pula untuk informasi digital? Dan memiliki akses ke data yang kita butuhkan, terlepas dari penggunaannya, baik di rumah maupun di kantor dapat membuat hidup lebih mudah.

Kekhawatiran besar dengan perilaku tersebut dalam bisnis adalah bahwa staf dapat menjadi ceroboh tentang di mana mereka menyimpan informasi perusahaan. Para pekerja yang merasa nyaman menyimpannya di perangkat pribadi mereka dan tidak selalu cukup hati-hati untuk menjaga diri agar tetap aman. Informasi dapat memiliki risiko berbahaya terhadap pelaku kejahatan siber jika terlalu mudah diakses. Ini, tentu saja, memiliki konsekuensi yang luas dan berpengaruh bagi bisnis.

Ketika para pekerja berjuang untuk mengelola informasi pribadi dan pekerjaan mereka, bisnis pun dihadapkan dengan situasi sulit dalam mengawasi dan mengamankan jumlah file serta data yang semakin bertambah. Penelitian kami mengungkapkan bahwa 80% karyawan merasa tidak perlu bertanggung jawab untuk memastikan email, file, dan dokumen memiliki izin akses yang tepat, terlepas dari mereka yang membuatnya atau tidak.

Data pribadi yang sensitif, rincian pembayaran, dan kode otorisasi hanyalah beberapa contoh dari data kredensial dalam perusahaan untuk menjaga bisnis tetap berjalan secara efisien. Namun para staf tidak menyimpan rincian ini dengan aman atau benar. Hanya lebih dari setengah (56%) karyawan secara teratur menghapus item yang sudah tidak digunakan dari kotak masuk e-mail, dan hanya sepertiga (34%) yang menyingkirkan file usang pada perangkat keras mereka.

Kekacauan digital ini menjadi masalah yang lebih besar ketika informasi disimpan di tempat-tempat yang sulit dikendalikan, seperti cloud, folder bersama, atau saat file ditransfer. Peningkatan pesat dalam jumlah file yang dihasilkan menjadi lebih sulit bagi organisasi untuk mengelola informasi perusahaan. Meskipun demikian, mereka masih bertanggung jawab untuk memastikan bahwa data sensitif atau rahasia tidak mudah diakses dan ditemukan oleh pihak luar. (red)