Johnny Swandi Sjam, CEO Sigfox Indonesia yang Baru

200

Jakarta, Itech- Sigfox Indonesia menunjuk Johnny Swandi Sjam sebagai Chief Executive Officer Sigfox Indonesia. Johnny menggantikan Irfan Setiaputra, yang baru saja dilantik untuk memimpin maskapai flag carrier Indonesia, Garuda Indonesia. Irfan menjabat sebagai CEO Sigfox Indonesia sejak berdirinya pada awal tahun 2019. Seluruh kegiatan operasional Sigfox Indonesia tetap berjalan seperti biasa selama masa peralihan tersebut.

Johnny Swandi Sjam, CEO baru Sigfox Indonesia mengatakan, “Selamat untuk Irfan atas jabatan barunya. Tugas saya adalah untuk meneruskan bisnis yang sudah dirintis oleh Irfan beserta tim sebagai landasan peluncuran Sigfox Indonesia dalam mendukung Indonesia menuju transformasi digital sesuai keahlian Sigfox di bidang Low Powered IoT. Kami akan terus membangun ekosistem Sigfox dan mendorong Indonesia untuk menjadi negara yang menerapkan sistem industri 4.0 sepenuhnya.”

Johnny juga merupakan salah satu penggerak Sigfox Indonesia sejak pertama berdiri. Dengan pengalaman di bidang industri ICT dan dengan pengalaman memimpin berbagai perusahaan di bidang ICT antara lain mengawal perubahan dari Satelindo menjadi Indosat, Johnny memiliki jaringan yang sangat kuat di industry TI. Johnny akan bekerja bersama tim IT profesional di Sigfox Indonesia.

Sigfox adalah pengelola jaringan Internet of Things (IoT) terbesar di dunia yang berbasis di Prancis. Sigfox, mengumumkan operasinya di Indonesia di bawah nama PT Kirana Solusi Utama. Sigfox Indonesia sendiri mengklaim sebagai perusahaan IoT low power wide area (LPWA) atau listrik berdaya rendah.

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Sigfox Indonesia, Irfan Setiaputra, dalam penjelasannya mengatakan, IoT sudah mulai populer di Tanah Air, namun semuanya masih berbasis seluler. Artinya, mereka merupakan perusahaan berbasis non-seluler pertama di Indonesia. “Umumnya permasalahan penerapan IoT di Indonesia terkait empat hal, standardisasi, interopabilitas, jangkauan terbatas dan struktur biaya yang tidak skalabel. Kami sebagai jaringan IoT independen terbesar di dunia, melihat kendala tersebut dapat dimitigasi dengan solusi yang disesuaikan,” katanya kepada Media awal  Mei 2019 lalu

Setiap tahunnya perusahaan induk selalu membuka jaringan baru di setiap negara, dan tahun ini Indonesia menjadi negara ke 60 yang mereka sambangi. Layanan Sigfox sendiri banyak digunakan untuk solusi asset tracking, logistik dan utility.

Sangat banyak solusi yang dibutuhkan di sini, khususnya implementasi di pertanian, perkebunan, sampai parsel. Yang membedakan adalah, kami memungkinkan untuk logistik antarnegara,” kata Country Director Sigfox Indonesia, Ali Fahmi.  Apalagi, luasnya wilayah Indonesia masih menimbulkan beberapa tantangan, seperti keterbatasan jaringan dan sumber listrik. Konsep listrik berdaya rendah tidak membutuhkan daya listrik besar dan tidak butuh bandwith besar, karena data akan dikirimkan secara berkala.

IoT merupakan komunikasi yang dilakukan antara mesin dengan mesin. Indonesia sendiri memiliki target di 2022, di mana ada 400 miliar perangkat IoT dengan nilai Rp444 triliun. Harapannya agar lebih efisien, mengurangi tingkat kebocoran data, meningkatkan produktivitas dan menuju peradaban yang lebih baik. (red)