Dr Asep Karsidi Inisiasi One Map Policy

21

Jakarta, Itech- Asep Karsidi mengawali karir di  Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi  pada 1981 di proyek Hujan Buatan. Saat itu, Hujan Buatan masih sebagai proyek khusus yang diinisiasi BPPT. Sepuluh tahun kemudian, pada 1990, Asep Karsidi bergabung dengan TISDA (Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam) hingga menjadi Direktur TISDA BPPT pada 1997.

Pada 2000, Asep Karsidi melanjutkan pendidikan jenjang lebih tinggi (PhD) di Adelaide University South Australia dan mampu menyelsaikan akhir tahun 2003. Setahun berselang, Dr Asep Karsidi dipilih memegang tampuk Kepala UPT (Unit Pelaksana Teknis) Hujan Buatan.

Menapaki kembali bidang hujan buatan, beberapa terobosan penting ditorehkan. Dr Asep Karsidi mempopulerkan Istilah “Teknologi Modifikasi Cuaca” ketimbang istilah “Hujan Buatan”.  “Saya  memiliki pemikiran bahwa kita tidak bisa bikin hujan tapi melakukan  modifikasi kondisi cuaca untuk meningkatkan curah hujan dan mempercepat jatuhnya hujan,” paparnya.

Dr Asep Karsidi bahkan mampu mensejajarkan UPT Hujan Buatan dengan insitusi luar negeri dengan memenangkan tender Internasional untuk pelaksanaan TMC di wilayah konsesi tambang  Perusahaan PT. INCO di Soroako Sulawesi Selatan, pada 2004/2005. Saat itu, pesaing utama yang dikalahkan yaitu  Weather Modification Inc (WMI) dari Amerika Serikat.

Dibalik kompetisi bisnis, Asep Karsidi justru memanfaatkan momentum dengan mengajak kerjasama WMI (2005-2006) dalam upaya meningkatkan kemampuan Teknologi Modifikasi Cuaca. Bahkan  memberangkatkan para ilmuwan UPT Hujan Buatan mengikuti training dan magang di Fargo North Dakota USA, (kampus  WMI).

Di bidang riset TMC, Dr Asep Karsidi menginisiasi pemanfaatan teknologi flare di Indonesia termasuk mendorong ilmuwan-ilmuwan UPT Hujan Buatan membuat flare produk Indonesia. “Diantaranya Djoko Gunawan dan kawan-kawan,” ujarnya.

Flare berbentuk tabung yang di dalamnya berupa campuran bahan kimia dan bahan semai yang sudah diracik sedemikian rupa, sehingga tes asap sesudah pembakaran menunjukkan partikel dengan ukuran yang sesuai untuk rekayasa modifikasi awan. “Teknologi flare menjadikan operasional TMC lebih optimal,” tukasnya.

Dr Asep Karsidi juga memodifikasi pesawat Kingair milik PT Survei Udara Penas (Perusahaan Negara Aerial Survey) untuk dijadikan pesawat penyemai awan berbasis  flare. Saat El Nino melanda Indonesia sekitar 2005, Dr Asep Karsidi mengambil langkah cepat dengan memfasilitasi operasi Water Bombing dengan mendatangkan pesawat BE200 dari Rusia atas permintaan BAKORNAS PB-Menko Kesra.

Pada 2007, Dr Asep Karsidi melepas tugas di UPT Hujan Buatan dan diangkat menjadi Deputi Menko Kesra bidang Kerawanan Sosial menggawangi pembentukan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana).

Kendati demikian, Asep Karsidi tetap berharap para pimpinan dan keluarga besar BBTMC lebih  proaktif untuk meningkatkan kemampuan teknologi modifikasi cuaca. “Modifikasi cuaca tidak terfokus pada peningkatan dan pengurangan curah hujan saja. Tetapi juga para penerusnya mampu melakukan terobosan teknologi yang baru sesuai dengan tuntutan perkembangan teknologi dan terjadinya akselerasi perubahan lingkungan alam,” ujarnya.

Dr Asep Karsidi diangkat menjadi Kepala BAKOSURTANA pada 2010 dengan torehan prestasi lahirnya Undang-Undang Informasi Geospasial (UU IG) pada 2011. BAKOSURTANAL pun berubah nama menjadi Badan Informasi Geospasial. Dr Asep Karsidi juga menginisiasi One Map Policy dan pembangunan Ina Geoportal sebagai sarana berbagi pakai stake holder di bidang informasi geospasial. (red/TI.com)