Cyber Security dan Fintech Show Kembali Digelar

21

Jakarta, Itech- Cyber Security Indonesia (CSI) 2019 bersamaan dengan Indonesia Fintech Show (IFS) 2019 di Assembly Hall, JCC digelar hingga (8/11) ini menghadirkan lebih dari 100 perusahaan dalam dan luar negeri yang bergerak di bidang industri keamanan siber dan finansial teknologi.

Setidaknya terdapat 8 negara yang berpartisipasi dalam CSI 2019 yakni Indonesia, Singapura, Polandia, Hungaria, Amerika Serikat, Rusia, Inggris dan Korea. CSI 2019 digelar oleh Tarsus Indonesia bekerjasama dengan ATSI dan didukung  oleh BSSN,  Kemenkopolhukam), Kemenhan, dan Bareskrim Polri.

Ajang ini secara resmi dibuka oleh Kepala BSSN, Letjen TNI (Purn) Hinsa Siburian, didampingi oleh Deputi Bidang Koordinasi Komunikasi, Informasi dan Aparatur Kemenkopolhukam, Marsekal Muda Rus Nurhadi Sutedjo. CSI 2019 Acara ini menampilkan beragam perkembangan industri dan teknologi terkini dari keamanan siber dan Fintech, sehingga diharapkan mampu menjadi solusi tepat bagi para pelaku usaha untuk mendapatkan segala kebutuhan keamanan siber dan jasa layanan keuangan berbasis teknologi.

Kepala BSSN menyatakan, kolaborasi dengan para pemangku kepentingan diperlukan untuk mengantisipasi serangan siber yang dapat mengancam keamanan siber nasional. “Saya berharap semua pihak dapat membangun kapasitas dan kapabilitas dalam menghadapi ancaman siber sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan yang dimiliki,” katanya.

Menurut dia, BSSN sangat terbuka bagi pihak mana pun untuk berbagi informasi terkait dengan keamanan siber. “Kita akan kolaborasi melalui working group, investigasi, dan penelitian bersama terkait teknologi, tren, dan permasalahan siber, dan capacity building dengan melaksanakan cyber security training,” tutur Hinsa.

Hinsa menyebutkan selama tiga tahun ini, BSSN berkomitmen untuk terus berperan dalam membangun keamanan dan ketahanan siber nasional melalui berbagai program kegiatan dan layanan yang telah dilaksanakan.

BSSN telah memberikan layanan penilaian risiko dan identifikasi kerentanan serta audit keamanan TIK; mengembangkan dan mengoordinasikan kerangka kerja perlindungan Infrastruktur Kritis Nasional (IKN); memberikan layanan capacity building, sosialisasi security awareness dan literasi keamanan siber; mengorganisasi dan melaksanakan latihan bersama untuk menguji prosedur dan kesiapsiagaan para pemangku kepentingan khususnya dalam sektor IKN.

Program dan layanan tersebut, kata dia, “berhasil meningkatkan tingkat keamanan siber” Indonesia dengan indikasi meningkatnya peringkat Indonesia pada Global Cyber Security Index (GCI). “Keberhasilan ini tentunya tidak terlepas dari dukungan dan peran aktif para pemangku kepentingan keamanan siber nasional,” kata mantan Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad) tersebut.

Berdasarkan laporan GCI yang dikeluarkan oleh International Telecommunication Union (ITU), peringkat Indonesia naik dari peringkat ke-70 pada tahun 2017 menjadi peringkat ke-41 pada tahun 2018 dari 194 negara. Peringkat GCI ini telah diakui dan menjadi salah satu rujukan bagi seluruh negara terkait komitmen dan usaha dalam menjaga dan meningkatkan keamanan siber. Penilaian GCI memiliki lima pilar parameter yang meliputi aspek legal, aspek teknikal, aspek organisasi, aspek pembangunan kapasitas, dan aspek kerja sama. Kelima pilar tersebut menjadi salah satu landasan dalam menyusun Strategi Keamanan Siber Nasional.

Menurut dia, strategi keamanan siber nasional diperlukan untuk membangun dan menerapkan tata kelola keamanan siber yang efektif, membangun kemandirian teknologi keamanan siber, mencegah dan mengelola ancaman, insiden, dan/atau serangan siber, meningkatkan budaya keamanan dalam ruang siber, serta mengoptimalkan sumber daya keamanan siber.

Niekke W Budiman selaku Product Director Tarsus Indonesia mengatakan bahwa, “perkembangan teknologi sangatlah pesat dan tanpa batas dari waktu ke waktu diseluruh dunia, hal ini mendorong kita untuk menggunakan teknologi sebagai pendukung beragam kegiatan sehari – hari. Penggunaan sumber data dan informasi menjadi instrument penting sehingga keamanan siber menjadi sangat diperlukan. Melalui acara ini kami ingin menghadirkan satu media komunikasi yang dapat mempertemukan seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah selaku regulator, maupun pelaku usaha sebagai penyedia solusi keamanan cyber dan jasa keuangan berbasis teknologi untuk bersama – sama bertukar informasi mengenai teknologi, inovasi terbaru, membangun jaringan bisnis dan membahas perkembangan industri keamanan siber serta finansial teknologi guna menjawab segala tantangan dimasa depan,” ujarnya.

Sementara itu, Mirza Fachys selaku Wakil Ketua Umum  Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menyatakan, “Indonesia merupakan salah satu target utama serangan siber, oleh karena itu melalui acara ini kami berharap dapat mempersembahkan platform yang tepat bagi para pemangku kepentingan baik pemeritah maupun pelaku usaha untuk bersama – sama menjawab masalah terpenting dengan prioritas regulasi dalam menjaga integritas keamanan data dan informasi di tanah air serta membuka wawasan akan pentingnya manajemen keamanan siber,” kata Mirza.

Dalam CSI 2019, Tarsus Indonesia juga menyelenggarakan Cyber Security Conference sebagai program edukasi kepada para pengunjung, acara ini diselenggarakan selama 3 hari dengan menghadirkan para pakar di bidang keamanan siber dan membahas beragam tema yang menarik..

Bersamaan dengan CSI 2019 digelar pula IFS 2019 yang menghadirkan beragam solusi finansial teknologi dan perkembangannya. IFS 2019 diselenggarakan bekerjasama dengan Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI). Pada penyelenggaraan IFS 2019 ini mengajak para pelaku usaha dan masyarakat untuk lebih mengenal apa itu Fintech Syariah, melalui Sharia Investment Forum.

“Acara ini menghadirkan para pakar keuangan dan teknologi dari pelaku usaha maupun pemerintah, forum ini akan membahas beragam inovasi dan perkembangan jasa keuangan berbasis teknologi di ekosistem ekonomi syariah,” papar Ronald Wijaya, Ketua Umum AFSI.Selain Sharia Fintech Forum, IFS 2019 juga akan membahas beragam tema menarik lainnya seperti perkembangan industri fintech di Indonesia, bagaimana cara mendapatkan pendanaan untuk usaha startup dan masih banyak lagi. (red)